Kamis, 21 April 2016

Perlawanan Diponegoro Menghadapi Kolonialisme


Pendahuluan
Sebelum perang Diponegoro pecah, terjadi kekalutan di Istana Yogyakarta, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II atau Sultan Sepuh yang memerintah dari tahun 1792 sampai 1890. Sultan Sepuh adalah nenek Pangeran Diponegoro yang di nobatkan menjadi raja sebagai pengganti Sultan Hamengku Buwono I, sehingga ia mengalami sendiri peristiwa yang terjadi di istana sejak pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II. Ketika pada tahun 1792, Sultan Hamengku Buwono I wafat, maka permaisurinya Kanjeng Ratu Ageng, tetap tinggal di Istana sambil mengasuh cicitnya, Pangeran Diponegoro waktu itu berusia tiga tahun. Ketegangan mulai timbul ketika Sultan Hamengku Buwono II memecat dan menggeser pegawai istana dan bupati-bupati yang dahulu dipilih oleh Sultan Hamengku Buwono I. Sultan Hamengku Buwono II menginginkan pemerintahan yang kuat dengan dibantu oleh orang-orang yang dekat dengannya. Maka diangkatlah menantunya sebagai pembantu, misalnya Raden Adipati Danurejo II sebagai patih, Raden Tumenggung Sumodiningrat sebagai Wedana Lebet dan Raden Ronggo Prawirodirjo III, sebagai bupati-wedana Mancanegara Timur. Tindakan Sultan ini mengakibatkan sebagian pegawai yang telah berpengalaman dalam pemerintahan mengundurkan diri. Kanjeng Ratu Ageng telah member peringatan kepada Sultan atas tindakan tersebut, tetapi tidak mendapat tanggapan baik. Golongan yang disisihkan kemudian minta perlindungan kepada putera mahkota, yaitu ayah Pangeran Diponegoro. Keadaan istana menjadi tidak tentram, sehingga Kanjeng Ratu Ageng meninggalkan istana dengan diikuti oleh Pangeran Diponegoro yang waktu berusia enam tahun. Ratu Ageng menuju kea rah barat Yogyakarta, yaitu Tegalrejo.

Tak lama kemudian Sultan Hamengku Buwono II diturunkan dari tahta oleh Belanda. Salah satu penyebabnya adalah lemahnya pemerintahan. Lalu, diangkat Pangeran Adipati Anom sebagai Sultan Hamengku Buwono III, yang memerintah dari tahun 1810-1811.

Dalam masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono III keadaan pemerintahan Yogyakarta semakin mundur. Beberapa daerah kesultanan diserahkan kepada Belanda; pajak di daerah pantai yang semula harus dibayar Belanda kepada Sultan, dihapus. Selain itu, upacara penghormatan kepada Sultan yang dianggap terlampau berlebihan dihapus.

Sultan Sepuh yang sangat merasakan akibat penyerahan tahta pada puteranya yang ternyata sangat menguntungkan pihak Belanda. Hal ini menimbulkan niatnya untuk mengambil alih pemerintahan dengan maksud mencegah keruntuhan pemerintahan. Akan tetapi mengalami kegagalan. Dan beliau dibuang ke Pulau Pinang pada tahun 1812.

Tak lama kemudian Sultan Hamengku Buwono III wafat, lalu digantikan oleh Pangeran Jarot, Putera Mahkota  sebagai Sultan Hamengku Buwono IV, yang memerintah dari tahun 1814 sampai 1822. 

Sementara itu, gejala baru yang timbul sebagai akibat hubungan dengan kekuasaan asing itu, ialah makin meluasnya peredaran minuman keras baik dikalangan bangsawan maupun rakyat umum. Gejala ini oleh golongan agama dalam istana dianggap membahayakan kehidpuan agama islam. Pangeran Diponegoro mengecam kehidupan istana waktu itu dengan mengatakan, bahwa para bangsawan telah mengabaikan ajaran agama islam dan tidak lagi menghormati para ulama.Sultan Hamengku Buwono IV yang memerintah di istana dipandang lemah dalam menghadapi kekuasaan Belanda dan berada di bawah pengaruhnya.

Ketika pada tahun 1822 Sultan Hamengku Buwono IV wafat mendadak, maka atas persetujuan Belanda yang ditunjuk penggantinya adalah puteranya, Pangeran Menol yang baru berusia tiga tahun. Dengan gelar Sultan Hamengku Buwono V yang memerintah dari tahun 1822 sampai 1826. Karena belum dewasa maka dibentuk suatu dewan perwakilan yang bertugas mendampingi Sultan menjalani pemerintahan. Anggota Dewan terdiri dari nenek Sultan (permaisuri Sultan Hamengku Buwono III), ibu dari Sultan (permaisuri Sultan Hamengku Buwono IV), pangeran Mangkubumi (putera Sultan Hamengku Buwono II) dan Pangeran DIponegoro. Kedudukan Diponegoro dalam dewan perwalian ini pada prakteknya tidak berarti sama sekali, ia tidak pernah diajak bicara urusan pemerintah. Hal ini menunjukan adanya usaha penyingkiran atas dirinya. Selanjutnya Diponegoro mengeluh bahwa kedudukanya dalam perwalian hanya sebagai seorang emban saja dalam arti biasa. Akhirnya Diponegoro mengundurkan diri dari dewan perwalian dan tak mau turut campur dalam urusan istana.

Diluar kehiduan istana terdapat juga kekecewaan dikalangan sebagian besar rakyat, khususnya petani. Kekecewaan terhadap pemerintah kerajaan selain dikarenakan tekanan-tekanan pajak dan kerja wajib, juga karena tindakan raja yang mengijinkan penyewaan tanah pada perkebunan-perkebunan swasta asing.

Dalam hal itu penyewaan tanah ngarai pada perkebunan-perkebunan swasta membawa akibat makin terdesaknya tanah persawahan. Gejala tersebut cukup menjelaskan permulaan perlawanan Diponegoro perkebunan-perkebunan swasta juga merupakan sasaran penghancuran dari lascar petani dan banyak petani yang menggabungkan diri dengan Pangeran Diponegoro.

Kekecewaan terhadap pemerintah kerajaan, yang dalam bidang politik banyak dipengaruhi oleh Belanda, ketika terjadi kericuhan mengenai pembuatan jalan melalui tanah desa Tegalrejo tanpa seizing Diponegoro. Jalan yang akan dibangun oleh Belanda tersebut melintas tanah makam leluhur Diponegoro itu mendapat tentangan keras dari Pangeran Diponegoro. Insiden pemasangan tonggak jalan terjadi pada tanggal 20 Juli 1825 tidak dapat didamaikan. Belanda bersikeras untuk melaksanakan maksudnya, sedang Diponegoro juga tetap mempertahankan haknya sebagai pemilik tanah Tegalrejo, dan suasana menjadi semakin tegang.

Dengan perantaraan Pangeran Mangkubumi, Residen A.H. Smisaert meminta agar Diponegoro bersedia datang ke rumah Residen, namun permintaan itu ditolaknya. Dan peringatan kedua oleh Belanda, apabila Pangeran Mangkubumi tidak berhasil melunakkan pendirian Diponegoro, maka Belanda tidak berani menanggung keselamatan dirinya. Akhirnya Mangkubumi berpihak dengan Pangeran Diponegoro. Surat Residen yang dibawa oleh Mangkubumi sebenarnya akan dijawab oleh Diponegoro nemun pasukan Belanda telah mendahului menembakkan meriam ketika surat balasan Diponegoro sedang ditulis Mangkubumi.

Bunyi meriam Belanda terdengar pada tanggal 20 Juli 1825 kurang lebih pukul 5 sore hari yang mengejutkan rakyat Tegalrejo. Rakyat Tegalrejo dalam waktu singkat membanjiri sekitar dalem Tegalrejo dengan membawa peralatan senjata yang ada pada mereka seperti tobak, lembing, umban pelempar batu.

Lalu salah seorang pasukan Diponegoro melaporkan bahwa pasukannya telah dipukul mundur. Atas desakan Pangeran Mangkubumi, Pangeran Diponegoro dan diikuti oleh adik Pangeran Mangkubumi yaitu Pangeran Ronggo berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh.

Jalannya Perang
Daerah pertempuran makin lama makin meluas. Di daerah Kedu terjadi pertempuran sengit di Desa Dinoyo. Pasukan Diponegoro menghadapi lawan yang besar jumlahnya. Mereka terdiri dari 2000 orang, yaitu gabungan antara pasukan Belanda dan pasukan Tumenggung Danuningrat, Bupati Kedu mimihak pada Belanda. Seconegoro dan Kertonegoro segera meminta bantuan ke Selarong. Dari Selarong dikirim bantuan prajurit Bulkiya yang mana dipimpin oleh Haji Usman Alibasah dan Haji Abdulkadir. Yang pada akhirnya, pasukan Belanda dapat dipukul mundur dan bupati Kedu, Tumenggung Danuningrat tewas dalam pertempuran.

Sementara itu di Selarong, Pangeran Diponegoro menerima surat dari Jenderal de Kock di Surakarta tanggal 7 agustus 1825, disusul dengan surat yang kedua tanggal 14 Agustus 1825. Yang isinya de Kock berjanji akan member jaminan keamanan pada Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi sertta pengikutnya, apabila beliau bersedia menghentikan perang dan bersedia melakukan perundingan perdamaian. Akan tetapi tidak ada balasan dari de Kock. Maka pertempuran oleh Pangeran Diponegoro masih berlanjut.

Pangeran Diponegoro mengangkat lagi pemimpin-pemimpin pasukan untuk memperkuat barisan. Prajurit P ini dipimpin oleh Raden Dullah Prawirodirjo (Sentot Alibasah Prawirodirjo), prajurit Surojo dipimpin oleh Abu Sungeb, Prajurit Bulkiya dipimpin oleh Haji Muh, Usman Basah dan Haji Abdulkadir.

Peperangan terus berjalan. Gunung Kidul dibawah pimpinan Pangeran Singosari jatuh. Pangeran Singosari mundur dan bergabung dengan Syekh Dullah Kaji Muda di Imogori. Prajurit Bulkiya segera datang membantu dan dalam pertempuran sengit di pimpin oleh Haji Usman Alibasah pasukan Belanda dapat dipukul mundur.

Di daerah Plered pertahanan pasukan Diponegoro cukup kuat. Pada tanggal 16 April 1826 mendapat serangan dari pasukan Belanda dibawah seorang jenderal, namun tetap bertahan. Serangan Belanda kedua kalinya tanggal 9 Juni 1826, yang dibantu oleh pasukan Mangkunegoro juga tidak berhasil mematahkan pertahanan Kertopengalasan. Di daerah pertempuran lain pasukan Sentot Ali Basah Prawirodirjo pada tanggal 28 Juli 1826 telah berhasil melakukan penyergapan terhadap pasukan musuh di Kasuruan. Pasukan Diponegoro sendiri pada tanggal 9 Agustus 1826 telah pula berhasil memukul pasukan Belanda.

Kesulitan-kesulitan yang dialami selama periode perang 1825-1826 mendorong pimpinan militer Belanda untuk menggunakan siasat baru, ialah Benteng Stelsel, atau Sistem Benteng. Sistem ini dimulai dilaksanakan oleh Jenderal De Kock dalam periode sejak tahun 1827. Tujuan dari Benteng Stelsel adalah untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro dengan jalan mendirikan pusat-pusat pertahanan berupa benteng-benteng di daerah yang telah dikuasai oleh Belanda. Pelaksanaan Bentang Stelsel juga dimaksud untuk mengadakan tekanan pada Diponegoro agar bersedia segera menghentikan perlawanan.

Akhir Perang
Bertambahnya kekuatan pasukan Belanda dengan datangnya bantuan pasukan dari daerah-daerah lain merupakan salah satu sebab makin terdesaknya pasukan Diponegoro di berbagai daerah pertempuran. Sementara itu, Belanda juga makin giat berusaha untuk mendekati pemimpin-pemimpin pasukan dengan maksud agar mereka mau memihak Belanda. Seorang Putera Mangkubumi bernama Pangeran Notodiningrat bersama dengan istri, ibunya dan 20 orang pengikutnya, menyerah pada tanggal 18 April 1828; Pangeran Ari Papak menyerah dalam bulan Mei 1828, sedang Sosrodilogo yang merupakan tokoh dalam mengobarkan perlawanan di daerah Rembang juga menyerah tanggal 3 Oktober 1828.

Sentot Prawirdirjo masih terus aktif melakukan perlawanan di medan pertmapuran. Meskipun pernah terpaksa mundur pada saat menghadapi Belanda pada akhir September 1828. Pada tanggal 20 Desember 1828 ia mengadakan penyerangan atas Benteng Belanda di daerah Nanggulan dan memperoleh kemenangan. Dalam pertempuran tersebut Kapten van Ingen dan Pangeran Prangwadono tewas. Dalam pandangan Belanda, Sentot tetap merupakan musuh yang berbahaya. Oleh karenanya Belanda berusaha mencari jalan untuk mendekatinya sehingga ia mau menyerah.

Selanjutnya pada tanggal 27 Juli 1829, van Nes juga mengirim surat kepada Sentot Prawirdirjo berisi ajakan untuk berdamai. Belanda menyanggupi untuk menjamin keselamatan diri Sentot dan akan member perlakuan dan kedudukan yang baik. Dalam hubungan ini, Komisaris Jenderal de Bus telah member instruksi kepada Jenderal De Kock agar memaksa Diponegoro untuk menghentikan perlawanan dan supaya mengancam akan membunuh anaknya, Diponegoro Anom, apabila Diponegoro menolaknya.

Untuk mendekati Sentot lagi, Belanda menggunakan Pangeran Ario Prawirodiningrat, Bupati Madiun yang masih kerabat dengan Sentot sendiri. Prawirodiningrat diminta oleh Belanda untuk melunakkan pendirian Sentot agar mau menghentikan perlawanan. Akhirnya pendekatan Belanda pada Sentot untuk berdamai berhasil dalam perundingan di Imogiri tanggal 17 Oktober 1829, yaitu setelah Belanda bersedia menerima beberapa syarat yang diajukan oleh Sentot. Sebagai kelanjutan dari persetujuan itu Sentot dan pasukannya pada tanggal 24 Oktober 1829 memasuki ibukota Negara Yogyakarta untuk menyerahkan diri.

Bagi Diponegoro menyerahnya Sentot merupakan pukulan berat. Sedangkan sebulan sebelumnya, Pangeran Joyokusumo yang banyak membantu dalam bidang taktik, telah gugur dalam suatu pertempuran. Merosotnya kekuatan perang Diponegoro makin Nampak setelah makin banyak orang-orang yang berperanan besar menyerah pada Belanda.

Usaha Belanda untuk mempercepat selesainya perang antara lain juga dilakukan dengan cara pengumuman pemberian hadiah sebanyak 20.000 ringgit kepada siapapun yang dapat menangkap Diponegoro. Pengumuman yang telah dikeluarkan sejak tanggal 21 September 1829 hingga akhir tahun itu masih belum juga berhasil. Pendekatan akhirnya tercapai dengan diadakanya pertemuan antara Kolonel Cleerens dengan Diponegoro di Desa Romo Kalam pada tanggal 16 Februari 1830. Dalam perundingan pada hari berikutnya di Kecawang Belanda menyarankan pada Diponegoro untuk melanjutkan perundingan di Magelang dengan jaminan ia akan mendapat perlakuan jujur, dalam arti apabila perundingan gagal, ia diperbolehkan ke medan perang. Dengan kepercayaan akan janji Cleerens, Diponegoro dengan pasukannya pada tanggal 21 Februari 1830 telah tiba di bukit Menoreh dan seterusnya pada tanggal 8 Maret 1830 memasuki kota Magelang. Berhubung bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka Diponegoro meminta agar perundingan ditunda.

Sementara itu, Jenderal De Kock yang baru tiba di Semarang setelah beberapa waktu lamanya di Batavia, mendengar berita bahwa usaha Cleerens untuk mendekati Diponegoro berhasil. Pada tanggal 25 Maret 1830 Jenderal De Kock dengan secara rahasia member instruksi untuk menangkap Diponegoro apabila perundingan gagal. Penundaan perundingan selama kira-kira 20 hari dalam bulan Ramadhan member kesempatan pada Belanda untuk merencanakan penangkapannya. Perundingan yang diadakan pada tanggal 28 Maret 1830 ternyata berakhir dengan kegagalan. Di rumah Residen Kedu yang menjadi tempat perundingan itulah Diponegoro ditangkap. Dengan ditangkapnya Diponegoro berarti bahwa pemimpin tertinggi perlawanan tidak ada lagi. Kegiatan perlawanan di daerah-daerah yang sejak awal tahun 1830 telah menurun menjadi semakin lemah dan akhirnya tidak berate lagi.

Berdasarkan keputusan pemerintah Belanda di Batavia pada tanggal 30 April 1830, Diponegoro disingkirkan ke Menado. Diponegoro kemudian diangkut dengan kereta ke Semarang dengan penjagaan serdadu-serdadu Belanda. Karena di Menado penjagaan atas Diponegoro dirasa kurang kuat maka pada tahun 1834 Belanda memindahkannya ke tempat pembuangan di Ujungpandang. Di situlah Diponegoro tinggal sampai meninggalnya pada tanggal 8 Januari 1855 dalam usia  lebih kurang 70 tahun.


Sumber:
Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta : PN Balai Pustaka